Dukungan Psikososial Pasca Gempa Maluku


Bencana gempa bumi di Maluku yang terjadi dalam beberapa minggu ini memberikan pengalaman peristiwa traumatik bagi masyarakat. Peristiwa traumatik akibat bencana akan memunculkan gejala-gejala distress mental yang umumnya terjadi seperti ketakutan, gangguan tidur, mimpi buruk, panik, siaga berlebihan , berduka dan lain-lain. Hal ini merupakan suatu respon “NORMAL” yang umumnya timbul pada situasi “TIDAK NORMAL” seperti pada situasi bencana.

Menurut Kubler-Ross, individu yang mengalami peristiwa traumatik akan mengalami 5 tahapan respon mental yaitu: keterkejutan dan penyangkalan, kemarahan, tawar menawar, keputusasaan dan penerimaan. Kelima tahapan ini umumnya berlangsung secara berurutan. Namun pada beberapa orang tahapan tersebut bisa tidak dialami secara berurutan atau bahkan ada yang tidak pernah melewati tahapan tertentu tetapi langsung masuk pada tahap selanjutnya. Lama masing-masing tahapan berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Tidak ada patokan pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tahap penerimaan.

Umumnya keadaan tersebut bersifat sementara dan sebagian besar akan pulih secara alamiah dengan berlalunya waktu, meskipun tanpa intervensi yang spesifik. Karenanya, dalam melakukan intervensi dalam bentuk apapun, hendaknya jangan “merusak” mekanisme adaptasi normal yang dimiliki setiap individu yang justru dapat menghambat proses pemulihan.

Korban bencana dan peristiwa traumatik memerlukan pendampingan psikososial yang tepat dapat membantu individu mengembangkan mekanisme koping yang ada dalam dirinya sehingga mereka secepatnya dapat menata kehidupannya kembali..

Intervensi psikososial dan kesehatan jiwa yang diberikan seharusnya terintegrasi dalam setiap kegiatan bantuan kemanusiaan dan berjalan secara berkesinambungan. Bila tidak, maka kondisi yang diharapkan akan sulit.

Anak-anak termasuk dalam kelompok risiko tinggi karena mereka masih dalam tahap perkembangan, sehingga peristiwa traumatik yang dialami dapat berpengaruh pada perkembangan dan pendidikan mereka. Selain itu anak-anak juga rentan menjadi korban kekerasan (child abuse) karena orang tua mereka juga mengalami stress yang memerlukan bantuan ahli kesehatan jiwa untuk mengatasi hal tersebut.

Dukungan Psikososial pada anak adalah dengan pendampingan, memberikan rasa aman dan nyaman serta memenuhi kebutuhan dasar atau primernya, setelah itu mendengarkan, menemani dan kebersamaan, sebagai salah satu contoh adalah dengan terapi bermain sehingga terjadi proses adaptasi dan perubahan positif guna mengurangi trauma yang akan terjadi.

Dukungan dari keluarga dan lingkungan akan sangat membantu melalui setiap tahapan sehingga diharapkan individu tersebut akan semakin cepat masuk dalam tahap penerimaan.

Dukungan kesehatan jiwa dan psikososial tidak berarti bahwa para korban bencana membutuhkan pengobatan atau konsultasi khusus dengan psikiater, psikolog atau konselor saja, tapi dukungan kesehatan jiwa dan psikososial dapat dilakukan oleh petugas kesehatan (dokter, perawat) dan pekerja masyarakat terlatih dengan memberikan bantuan psikologis pertama (psychological first aids=PFA) dalam setting pelayanan kesehatan umum dan masyarakat.

dr. Sherly Yakobus, Sp.KJ