Miris! Begini Nasib Pasien Sakit Jiwa Sebelum Indonesia Merdeka

Miris! Begini Nasib Pasien Sakit Jiwa Sebelum Indonesia Merdeka

Miris! Begini Nasib Pasien Sakit Jiwa Sebelum Indonesia Merdeka

Luthfiadesta Andiko – detikHealth

Jakarta – Sebelum tahun 1900, perawatan untuk kesehatan di Indonesia masih belum tersedia, terlebih lagi perawatan untuk penyakit mental. Sebelumnya sakit mental berada dalam ranah hukum, bukan kesehatan. Jadi yang menetapkan kalau seseorang itu sakit mental dan butuh dirawat dalam rumah sakit jiwa bukanlah dokter, melainkan hakim.

Dalam penjelasannya dalam simposium Colonial Medicine in Post-Colonial Times: Continuity, Transition, and Change, di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (27/06/2018), Profesor Hans Pols, Wakil Ketua History of Medicine in South East Asia (HOMSEA), mengatakan bahwa di Indonesia, orang-orang yang dianggap memiliki gangguan jiwa akan dimasukkan ke dalam penjara, gubuk, atau saung yang hanya dari bambu, tanpa dinding dan hanya beralaskan tanah.

Beberapa waktu kemudian mulai ada perencanaan untuk perawatan bagi orang-orang yang memiliki gangguan mental dengan membuat survey, membangun rumah sakit jiwa di kawasan tropis dan menghitung jumlah kasur yang dibutuhkan di pulau Jawa dan Madura.

Akhirnya pada 1882 dibangun rumah sakit jiwa (RSJ) pertama di Indonesia yang terletak di Buitenzorg (sekarang Bogor). Rumah sakit ini dibangun berdasarkan standar medis yang paling modern pada saat itu.

Rumah sakit kedua dibangun pada tahun 1902, terletak di Lawang, yang sekarang bernama RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat. Rumah sakit ini terlihat seperti sebuah desa, terletak di pegunungan dan masih ada sampai sekarang. Dibangun juga RSJ Prof dr Suroyo di Magelang pada tahun 1923 dan di Sabang, pulau yang terletak di barat laut Indonesia.

Di keempat rumah sakit jiwa besar ini para pasien disuruh bekerja, seperti bertani, berternak, membuat furnitur dari kayu, sampai bersih-bersih rumah sakit. Melakukan pekerjaan merupakan salah satu bentuk terapi untuk menghilangkan stres atau depresi dari pasien.

Hal ini bukan saja dilakukan sebagai terapi, tapi juga untuk menekan biaya yang dikeluarkan rumah sakit untuk membayar pegawai. Area rumah sakit jiwa ini sangatlah besar, jadi akan mahal jika menambah pegawai untuk mengurusi rumah sakit.

Keempat rumah sakit jiwa ini memiliki bangunan yang indah, tetapi ini dikritik oleh banyak pihak yang menganggap rumah sakit untuk orang yang mentalnya terganggu tidak perlu lebih bagus dari rumah sakit untuk para tentara.

“Rumah sakit jiwa harusnya dibuat dari bambu dan beratap daun pisang saja, lebih murah untuk kompeni dan pasien juga merasa lebih nyaman, seperti di rumah,” pungkas Profesor Pols dalam ceritanya.