Rasakan Gejala Terinfeksi Virus Corona, Psikosomatik atau Bukan? Ini Cara Membedakannya


KOMPAS.com – Wabah virus corona menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan di dunia. Banyak yang cemas dan khawatir akan terpapar hingga tak bisa berpikir jernih untuk mengambil tindakan apa yang harus dilakukan sebagai langkah pencegahan. Jangan hanya berpikir soal menjaga kesehatan fisik, mental juga tak kalah pentingnya dijaga.

Mengutip Metro, Sabtu (14/3/2020), kekhawatiran berlebihan mengenai virus corona dapat menyebabkan tubuh menciptakan gejala sakit tertentu. Hal ini bisa membuat Anda berpikir telah terinfeksi virus corona.

Agar tak salah mendeteksi, penting untuk mengetahui gejala Covid-19 karena terinfeksi virus corona. CDC menyebutkan, gejala coronavirus disease atau Covid-19 yang muncul 2-14 hari setelah paparan adalah demam, batuk, dan sesak napas. Selain itu, penderita juga bisa mengalami kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan yang menetap di dada, dan bibir atau wajah kebiru-biruan.

Sementara itu, dokter dari The International Psychology Clinic, dr Martina Paglia, mengatakan, banyak orang merasa mengalami gejala mirip terinfeksi virus corona hanya karena dipicu kecemasan. Jika Anda merasa cemas dan panik, bisa jadi gejala yang muncul itu merupakan psikosomatik dan bukan karena terserang virus.

Menurut Psychology Today, penyakit psikosomatik adalah suatu penyakit di mana pikiran bawah sadar menghasilkan gejala fisik tanpa adanya penyakit.

Penyebab psikosomatik

Psikolog Klinis di Personal Growth Kantiana Taslim menjelaskan, biasanya psikosomatik disebabkan oleh emotional stress atau perasaan tertekan, cemas, dan takut berlebihan. Hal ini kemudian termanifestasi dalam bentuk sakit yang dirasakan secara fisik. Kantiana, yang biasa disapa Nana, mengatakan, pikiran, emosi, dan tubuh terhubung satu sama lain. “Ketika kita sedang mengalami kondisi emosional yang tidak baik, dan pikiran kita dipenuhi kecemasan serta ketakutan yang berlebihan, secara tidak langsung pikiran dan otak akan mengirimkan ‘sinyal’ yang salah ke tubuh,” kata Nana kepada Kompas.com, Jumat (27/3/2020).

Kemudian, tanpa disadari, tubuh dapat bereaksi terhadap hal tersebut dan memunculkan simptom atau gejala fisik yang mengganggu tubuh. Ia menyebutkan, gejala psikosomatik yang biasanya muncul adalah sakit kepala, jantung berdenyut cepat, otot-otot tegang, dan sakit, serta mengalami sesak napas karena panik. Kecemasan dan stres dapat membuat imun pada tubuh menurun.

Psikosomatik dan corona

Nana mengatakan, paparan informasi mengenai Covid-19 secara berlebihan akan memengaruhi psikologis seseorang hingga menimbulkan keresahan dan kecemasan. Meski demikian, berbagai perasaan yang dialami termasuk kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan juga harus disalurkan dan diekspresikan melalui berbagai hal yang produktif. Beberapa pertanyaan ini bisa ditanyakan pada diri Anda untuk mengetahui apakah Anda mengalami psikosomatik atau tidak:

  1. Apakah Anda mengalami gejala fisik (batuk, demam, flu, dan lainnya) saat Anda mendapatkan “banjir” informasi atau membaca, menonton mengenai corona?
  2. Apakah Anda merasa cemas, khawatir yang berlebihan dengan situasi yang terjadi saat ini, hingga kekhawatiran tersebut terus-menerus mengisi pikiran Anda?
  3. Apakah Anda merasakan simptom/gejala fisik yang mengkhawatirkan setelah bicara, memikirkan situasi saat ini?
  4. Apakah hal ini datang dan pergi? Atau konsisten anda rasakan selama beberapa hari?

Jika Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan banyak jawaban “Ya”, ada kemungkinan Anda mengalami psikosomatik.

Jika Anda merasa cemas setelah mendapat informasi mengenai corona, lalu merasakan gejala sakit fisik, perlu ditelaah apakah itu psikosomatik atau benar-benar gejala terinfeksi virus corona.

Bagaimana membedakannya?

Nana menekankan, psikosomatik biasanya diiringi kecemasan berlebihan terkait hal tersebut (corona).

“Jika Anda memang sudah menjaga kesehatan, membatasi informasi negatif, sudah berperilaku produktif, dan happy-happy kemudian gejalanya (sakitnya) hilang, berarti bisa jadi itu psikosomatik,” ujarnya.

Sebaliknya, jika sakit itu tidak hilang dalam waktu cukup lama, maka sebaiknya jangan melakukan diagnosis atau asumsi sendiri. Sebaiknya, segera berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti anjuran tenaga medis.

Menghindari psikosomatik

Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari psikosomatik? Berikut sejumlah hal yang disarankan Nana:

  • Buatlah rutinitas baru dan jaga pola hidup yang sehat, seperti makan bergizi, tidur cukup, dan olahraga di rumah.
  • Lakukan hobi dan aktivitas menyenangkan sebagai cara untuk relaksasi, meditasi, dan hal-hal lain yang positif dan menenangkan untuk Anda.
  • Pertahankan relasi sosial dengan tetap menjaga jarak fisik dan sosial. Misalnya dengan mengobrol secara online, bertukar kabar dengan orang-orang terdekat. Bahkan, dapat beraktivitas bersama melalui berbagai platform online.
  • Batasi informasi mengenai Covid-19 dan berita-berita lainnya dalam sehari. Misalnya, menjadwal 1-2 kali sehari untuk mengecek situasi terkini, seperti di pagi hari dan sore hari saja. Hindari membaca atau mencari informasi dari berbagai sumber. Carilah informasi dari sumber-sumber resmi dan terpercaya saja.
  • Jika dianggap perlu, batasi penggunaan media sosial, chat group, yang menurut Anda akan berdampak negatif serta banyak menyebarkan informasi yang mencemaskan dan tidak perlu. Bergabung dan aktiflah dalam grup, komunitas online yang positif, produktif, dan kreatif.
  • Lakukan konsultasi dengan tenaga profesional jika membutuhkan, misalnya melakukan online counseling.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Rasakan Gejala Terinfeksi Virus Corona, Psikosomatik atau Bukan? Ini Cara Membedakannya”

https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/28/105326065/rasakan-gejala-terinfeksi-virus-corona-psikosomatik-atau-bukan-ini-cara?page=1

Penulis : Nur Fitriatus Shalihah
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary