Sedih dan Depresi, Apa Bedanya?


Gagal masuk ke universitas impian. Tak kunjung mendapatkan panggilan kerja. Mengalami konflik dengan pasangan atau teman terdekat. Atau kehilangan orang-orang terkasih di tengah kondisi pandemi seperti ini. Apakah kamu pernah atau sedang mengalaminya? 

Situasi yang menimbulkan rasa kecewa dan sedih yang mendalam seperti itu membuatmu hanya bisa menangis dan meratapi peristiwa yang sebenarnya tidak dapat kamu ubah.

Jika kamu merasa sedih dalam kurun waktu tertentu, itu adalah hal yang wajar. Merasa sedih tidak lantas membuatmu mengalami depresi. 

Kami tahu ini memang terasa berat dan rasanya kamu tidak ingin melakukan hal lainnya. Hidupmu mungkin terasa sudah berhenti. Namun, apakah benar kamu sedang mengalami depresi?

Sedih menjadi bagian dari depresi

Sedih memang dapat menjadi salah satu gejala utama depresi. Namun, kesedihan tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis apakah seseorang mengalami depresi. Kenapa? Karena kesedihan dapat terjadi kepada siapa saja, termasuk orang yang sehat secara mental dan kondisinya tidak memenuhi kriteria mengalami depresi.

Di sisi lain, kebanyakan pasien dengan depresi berat malah tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Kita perlu lebih memperhatikan untuk membedakan antara kesedihan yang normal dengan suasana hati tertekan yang termasuk dalam keadaan depresi.

Beberapa orang dengan depresi justru cenderung menolak dan tidak mengakui hadirnya rasa sedih. Mereka terbiasa menyembunyikan perasaan tersebut dengan terlihat baik-baik saja. 

Emosi terpendam yang menumpuk bisa jadi salah satu pemicu munculnya depresi. Inilah yang menyebabkan orang dengan depresi tidak selalu mengalami kesedihan.

Memang apa bedanya depresi dengan sedih?

Sedih merupakan bentuk emosi yang wajar dirasakan setiap orang. Sama halnya dengan bentuk emosi yang lain, seperti marah, senang, kecewa, dan terkejut. Sedih muncul karena alasan yang jelas dan hanya berlangsung sementara. 

Rasa sedih akan hilang seiring berjalannya waktu. Ketika ada hal lain yang dapat membuat kita bahagia, rasa sedih itu akan hilang dengan sendirinya. 

Bagaimana dengan depresi?

Depresi merupakan masalah kesehatan mental. Terkadang, tanda-tanda depresi dapat muncul tanpa ada sebab yang jelas. Selain itu, tanda-tanda yang muncul pada penderita depresi berlangsung lebih lama dan tidak mudah hilang begitu saja. 

Depresi dapat hadir dalam rentang waktu tertentu tanpa ada hal spesifik yang melatarbelakanginya. Hal ini dapat berdampak buruk dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam pola pikir.

Cara mengatasi kesedihan

Jangan khawatir, Dear. Kesedihan bukanlah hal yang akan menetap dalam dirimu secara permanen. Buat mengatasi rasa sedih yang kamu rasakan, ada beberapa hal yang dapat kamu coba:

  • Lakukan hal-hal yang kamu sukai
  • Melihat video atau serial televisi favoritmu
  • Berolahraga agar tubuhmu terasa segar
  • Hadiahi dirimu dengan makanan atau minuman favoritmu
  • Istirahat. Upayakan tidur yang cukup dan berkualitas
  • Meditasi untuk memfokuskan pikiran
  • Habiskan waktu dengan hewan atau benda kesayangan
  • Jangan mengonsumsi obat-obatan yang tidak dianjurkan oleh dokter

Kriteria masalah kesehatan mental

Dalam dunia psikologi, terdapat sebuah indikator yang menentukan apakah seseorang sedang sedih atau mengalami depresi. American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5 criteria) memiliki 9 poin utama kriteria menganalisis apakah kamu mengalami depresi. 

Namun, perlu diingat, setiap orang bisa merasakan hal yang berbeda, tidak semua yang disebutkan di sini, atau bahkan lebih luas dari kriteria ini. Informasi ini tidak digunakan untuk self-diagnose ya! Jika kamu merasa ada kemiripan dengan yang kamu alami, segera konsultasi dengan ahlinya.

1. Merasa tertekan sepanjang hari dan berlangsung selama beberapa hari

2. Kehilangan semangat dan rasa bahagia saat melakukan hal-hal yang biasanya disukai

3. Mengalami kesulitan tidur atau sebaliknya, tidur berlebihan

4. Mengalami masalah pola makan, terlalu banyak atau kelewat sedikit makan sehingga berat badan naik atau turun secara drastis

5. Tidak dapat mengendalikan emosi, mudah gelisah, dan cemas

6. Sakit kepala ekstrim

7. Tidak mampu berkonsentrasi, kehilangan fokus, dan sulit dalam membuat keputusan

8. Merasa sangat bersalah dan tidak berharga tanpa alasan yang jelas

9. Munculnya pikiran atau berusaha untuk melukai atau mengarah kepada tindak bunuh diri

Saatnya kamu konsultasi ke ahli

Merasakan beberapa kriteria depresi di atas tidak langsung membuatmu mengalami depresi. Masih banyak faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan untuk menentukan apakah kamu hanya merasa sedih atau memang mengalami depresi jika kesedihanmu tidak pergi dalam waktu dua minggu. 

Kamu juga bisa mencoba cara-cara untuk menghilangkan kesedihanmu, seperti yang sudah disebutkan di atas. Namun, jika rasa sedihmu tidak hilang juga, mungkin kamu butuh berkonsultasi dengan ahlinya.

Berkonsultasi ke psikolog bukanlah hal yang tabu ataupun memalukan. Mencari jawaban dan bantuan ke psikolog sama halnya seperti kamu pergi ke dokter untuk menyembuhkan penyakit di tubuhmu. Psikolog akan menanyakan keadaanmu secara utuh untuk menganalisis masalahmu. Dengan begitu, psikolog dapat mengidentifikasi masalah apa yang sedang kamu hadapi dan memberikan solusi terbaik untuk mengatasinya.

Kamu juga bisa berkonsultasi dengan psikolog profesional di Riliv untuk menjawab segala pertanyaanmu terkait kesehatan mental, termasuk depresi. Tak perlu merasa takut dihakimi atau takut rahasiamu akan diketahui orang lain. Dengan menerapkan kode etik psikologi, psikolog profesional Riliv akan mendengarkan segala ceritamu. 

Jika masih banyak pertanyaan yang menghantui pikiranmu, Riliv akan selalu siap membantu.

Setiap bulannya LINE TODAY akan menyoroti topik-topik yang dekat dengan pembaca. Artikel ini adalah bagian dari konten spesial bulan ini, “Milenial & Gen-Z Gampang Depresi?” berkolaborasi dengan platform kesehatan mental Riliv.

Dayinta T.R.

Referensi:

https://www.healthline.com/health/depression/depression-vs-sadness#risk-factors

https://www.medicalnewstoday.com/articles/314418#takeaway

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3181878/